Story 1#
Aku
takut kalau pertanyaan itu malah membuatnya kesal, tapi aku juga penasaran
perjalanan ini akan di bawa ke mana. Yang kulihat di sini hanya ada pepohonan
besar dengan daun yang begitu lebat seperti hutan belantara, Aku benar-benar takut
sekali hingga tak sadar air mataku mulai menetes.
“Kita
mau ke tempat apa sih, kok lewat jalanan yang penuh dengan pohon-pohon besar,
kamu jangan bikin aku jadi takut, hiks.” Aku mulai menangis karena ketakutan
ini semakin menjadi.
“Tidak
usah menangis, aku takkan membawamu ke tempat menyeramkan,” lanjutnya dengan
nada datar.
Aku
langsung diam dan mengikuti perkataannya, namun hatiku masih tak karuan karena
belum mengetahui tujuan kita yang sebenarnya. Karena lelah menangis dan
memikirkan yang tidak pasti, aku pun tertidur lelap di dalam mobil. Terserah
aku mau diajak ke tempat seperti apa sama dia, asal bukan tempat yang
menyeramkan. Selalu saja seperti ini ketika kami bertengkar, berdiam diri dan
memilih membawaku kabur ke suatu tempat yang indah, menurutku. Aku tahu bahwa
ia tak bisa mengungkapkan sesuatu yang ia mau dengan gamblang, ia lebih banyak
bertindak daripada berbicara dan itulah yang aku suka darinya.
Aku
mengerjapkan mata perlahan-lahan, rasa kantukku masih belum hilang dan ingin
melanjutkan tidurku yang terganggu. Tapi, aku merasa ada yang aneh saat ingin
tidur kembali.
“Perasaan
tadi aku tidur di mobil deh, kok sekarang aku di atas kasur?” tanyaku bingung.
Tanpa
babibu aku langsung berlari keluar kamar dan mencari si biang kerok ini.
‘Awas aja kalau nanti
ketemu, aku bakal unyeng-unyeng kepalanya,” batinku menjerit
kesal.
Di balik jendela kamar, kulihat
lelakiku sedang menyesap minuman entah itu kopi, teh atau air biasa akupun tak
tahu. Aku memberanikan diri untuk menghampirinya yang tengah duduk terdiam
menatap layar laptopnya itu.
“Ngapain kamu ngendap-ngendap sambil
liatin aku? Udah kayak maling aja,”
Bugh.
Telat. Aku sudah tersungkur di
lantai karena tak sengaja menabrak kursi yang berada tepat di depanku. Ketahuan
deh.
“Ish,
makanya kalo lagi kerja itu lampunya dinyalain. Kan aku kira kamu maling laptop
suamiku.” Aku masih berada di lantai, mau berdiri rasanya ngilu sekali tulang
keringku.
“Mas
tolongin aku gak bisa bangun,” ujarku dengan muka memelas.
“…”
“Yaudah
aku tiduran aja di lantai, terus sakit deh biar kamu bisa jagain aku. Gak
pegang istri kedua kamu.”
“Siapa
istri kedua aku? Jangan ngawur kamu.” balasnya sembari menatapku yang masih
setia selonjoran di lantai. Giliran pertanyaan kayak gini, mulutnya berbicara.
“Ya
laptop kamulah, siapa lagi emangnya. Setiap hari yang di pegang dia mulu,
sampai pergi ke sini aja kamu masih fokus sama dia. Aku sedang jatuh aja yang
kamu pegang bukan aku tapi laptop kamu!” Aku tak bisa menahan kekesalan yang
sudah memuncak. Tapi lihatlah, dia hanya tersenyum manis merasa tidak bersalah
sama sekali.
“Aku
bingung sama otak kamu, istrinya lagi kesakitan bukannya ditolongin malah
senyum-senyum gak jelas. Udahlah aku capek, mau tidur.” Ucapku kesal dan
mencoba untuk berdiri menuju kasur tapi kok makin sakit ya. Aku berjalan dengan
pelan, dan tanpa sadar aku sudah berada dalam gendongannya, dengan lembut ia
menaruhku di atas kasur dan menyelimutiku. Tak lupa ia mencium dan menjetik
keningku dengan lembut.
“Dasar
cerewet, kamu tahu alasan aku membawamu pergi ke sini untuk apa?” tanya Mas
Alan dan aku hanya menggelengkan kepala karena tidak tahu.
“Buat
kunci mulut kamu yang selalu aja bikin aku pusing.” Aku melihat Mas Alan sedang
menatapku dengan lapar mata.
Wah,
gawat ini sudah tingkat waspada. Buru-buru aku menarik selimut dan menutupi
wajahku yang kuyakin sudah memerah seperti tomat rebus. Ya Rabbi, kenapa otak
aku cepat sekali berkoneksi kalau sudah mendengar hal seperti ini.
‘Mas
Alan sudah tidur kali ya,’ tanyaku dalam hati.
Kubuka
selimutku dan melihat Mas Alan sudah tidur dengan nyenyak sembari memelukku.
Kubalikkan tubuhku dan menghadap ke Mas alan. Aku senang sekali bisa melihatnya
tertidur dengan pulas, terkadang ia sering sekali tidak bisa tidur karena
mengidap insomnia sebelum bertemu denganku. Teringat di benakku, saat
sedang sibuk mengurus surat-surat untuk melamar kerja sebagai guru, Mas Alan
tidak tidur dan hanya akan tidur bila aku sudah selesai mengurusi pekerjaan
itu. Walaupun aku sudah sah menjadi istri Mas Alan, ia sama sekali tidak
melarangku untuk melakukan suatu hal. Hanya saja saat aku ingin melakukan
sesuatu harus izin terlebih dahulu kepadanya. Awalnya ia tidak setuju saat aku
meminta izin kepadanya untuk bekerja sebagai guru, takut aku terlalu capek dan
tak sempat untuk mengurusnya di rumah. Tapi, kuberi dia 1000 alasan yang
terbaik dan akhirnya ia mengizinkan aku bekerja sebagai guru.
“Kalau
lagi tidur kayak gini, muka ngeselin kamu kok jadi berubah ya,” bisikku pelan.
“Mas tau gak, semenjak ketemu kamu malah aku yang jadi susah tidur,”
Aku
memperhatikan wajah Mas Alan yang katanya sih tampan menggoda. Astagfirullah,
tidak boleh seperti itu Raya. Ingat, Mas Alan itu cuma mau sama kamu bukan yang
lain. Percaya diri sekali kau Raya.
Aku
memainkan tanganku di dada bidangnya sembari menarik pelan kancing yang terikat
dibajunya, “Kamu kenapa tampan banget sih, semua perempuan pasti pada terpikat
sama ketampananmu itu,”
“Aku
merasa tidak pantas berada di sampingmu, harusnya kamu itu menikahi seorang
perempuan yang hidupnya sepadan denganmu, bukan dengan diriku yang hanyalah
orang mis—”
Belum
sempat aku mengakhiri kalimat itu, sesuatu yang begitu kenyal kini telah
membungkam bibirku dengan lembut.
Weii,
kepoo ya lanjutannya apa wkwkw.

Komentar
Posting Komentar